Buah Keikhlasan

Posted by


Ikhlas merupakan manifestasi keimanan seorang mukmin. Tanpa keikhlasan rasanya belum sempurna Islam seseorang. Ikhlas bermakna memurnikan semua aktivitas hanya untuk mengharap keridhaanAllah SWT, tak peduli apakah manusia memuji atau membencinya. Tak surut karena celaan dan tak sombong karena pujian. Begitulah ikhlas, kekuatannya bisa kita rasakan hingga hari ini. Islam yang tertanamdi hati kita, tak lepas dari buah keikhlasan Nabi Muhammad SAW dan perjuangan para sahabat dan salafusshalih dalam memperjuangkan Islam.
Keikhlasan seseorang seringkali belum terasa bekasnya tatkala orang itu masih hidup. Boleh jadi dengan kuasa Allah untuk menjaga dan menguji kualitas keikhlasan seseorang. Buah keikhlasan baru terlihat  luar biasa efeknya setelah pelakunya menghadap Rabbnya. Sebut saja ulama dan pahlawan nasional seperti Haji Agus Salim, Haji Umar Said Cokroaminoto, Mohammad Natsir,Otto Iskandardinata  (Otista)dan masih banyak lagi.Merekarela meninggalkan keluarga dan hartanya demi memperjuangkan kemerdekaan Nusantara supaya bisa bebas dari cengkeraman kafir Belanda. Tercata, Otista harus mondar-mandir Jakarta-Bandung dan meninggalkan istri dengan enam orang anaknya demi mempertahankan izzah seorang muslim.
Masih tokoh kontemporer, tersebutlah di Mesir, seorang pejuang Islam yang hingga kini masih menyisakan kehormatan membela Islam bahkan membuat kaum kafiris takut hana dengan buku yang dikarangnya. Keikhlasan beliau tampak hingga di tiang gantungan. Saat itu ada dua orang polisi yang siap menggiriing ke tiang gantungan. Namun kedua polisi itu sama-sama menyimpan kecemasan sekaligus keheranan. Mereka cemas karena lelaki yang akan mereka gantung ini bukan lelaki biasa. Lelaki itu teramat berwibawa dengan imannya. Mereka juga heran, sebab sejak malamlelaki itu dibawa ke tempat peristirahatan tertentu sebelum digantung, ia selalu tersenyum. Senyumnya terlalu lebar untuk sebuah peristiwapaling mengerikan, hukum gantung.
Kedua polisi itu masih cemas campur heran. Menjelang matahari terbit, perintah sang atasan mengharuskan kedua polisi itu menggantung lelaki itu. Tapi sampai detik itu, ia masih saja menyungging senyum. Ia seakan-akan menikmati saat-saat menegangkan itu. Ia tampak begitu rela, begitu menerima, begitu ikhlas. Tapi senyum itu seperti menyemburatkan kekuatan jiwa yang dahsyat.
Adalah dengan kehendak Allah terjadi. Senyum manis lelaki yang sedang menghadap tiang gantung itu,rupanya menyusupkan hidayah Allah dengan amat halus ke dalam hati kedua polisi itu. Mereka berdua memang menggantung lelaki tadi. Tapi dalam pengetahuan Allah, justru saat itu pula kedua polisi itu menggantung dosa-dosa masa lalunya. Mereka berdua menyatakan taubat.
Ada banyak peristiwa dalam kehidupan kita dimana sikap-sikap imaniyah seperti keikhlasan, keteguhan, kebesaran jiwa dan lainnya terungkap dalam perilaku, sorot mata, atau senyum. Saat-saat seperti itu, sering lebih menggugah dari seribu kata yang pernah kita ucapkan. Di situ, makna yang terwakili lewat perilaku, sorot mata, senyum,atau yang lainnya, bagai angon sepoi yang dijadikan Allah sebagai kendaraan yang mengantar hidayah-Nya.
Dan keikhlasan, mungkin merupakan makna paling potensial untuk menggugah. Keikhlasan dalam pengertian hakiki sesungguhnya merupakan implementasi batiniyyah dari keyakinan dan pemahaman kita terhadap fikrah yang kita anut. Ada banyak jiwa dan hati yang tidak tersentuh oleh gemerlapkata, lebih dari ia tersentuh oleh cahaya keikhlasan jiwa. Sungguh, keikhlasanlah yang meniupkan ruh kekuatan dan pesona pada kata, perilaku, sorot mata, dan senyum. Dan keikhlasan pulalah yang menyediakan kendaraan ghaib yang akan mengantar hidayah Allah ke ruang jiwa manusia.
Sayyid Quthb, lelaki yang tersenyum menuju tiang gantung itu, mungkin tidak akan menduga kalau dengan senyumnya, Allah memberi hidayah kepada kedua orang yang justru ditugasi membunuhnya. Mungkin juga beliau sering tersenyum semanis itu di hari-hari biasa namun tidak menyebabkan orang bertaubat. Tapi ketika keikhlasan terwakili oleh senyum dan dalam momen seperti itu, Allah memberkahinya dengan cara-Nya sendiri. Dan hari ini bisa kita saksikan bagaimana penerus beliau sedang berjuang mengembalikan negara yang dulunya merupakan pusat dinasti fatimiyyah, yang ada universitas tertua di sana, yang dalam seabad terakhir ini dikuasai dan dikendalikan oleh musuh Allah.
Demikian pula gerbong beasiswa Kasmamta Foundation yang kita hajatkan ini, dengan keikhlasan kita berdoa semoga dikemudian hari mampu melahirkan sosok pejuang Islam yang mencerahkan dunia. Keikhlasan bukan dinilai dari 100ribu, 50ribu, seribu, atau doa sekalipun. Keikhlasan adalah sebentuk dukungan dari hati sanubari untuk ikut  menggerakkan umat Islam di jaman ini. Kita tahu bagaimana seorang Abdurrahman ibn Auf menyumbangkan 400 dinar kepada ahli Badar. Itu semua dalam rangka memperjuangkan kalimatullah. Untuk kurs tahun 2012, 400 dinar setara dengan 860juta rupiah. Belum lagi infaq yang lain.
Mari kawan, kita infaqkan sedikit dari rezeki yang Allah berikan untuk bersama menggerakkan gerbong KaEf ini. Takpenting apakah itu 100ribu, 50ribu, seribu, hatta untaian doa. Sebelum Allah mencabut ruh dari jasad kita, mari sisihkan harta itu untuk menjadi tabungan di akhirat kelak.karena kita tahu, rezeki kita adalah apa yang kita pakai hari ini,apa yang kita makan hari ini, dan apa yang kita infaqkan fii sabilillah. Alhamdulillah, hingga Mei 2012 telah tercatat donasi yang terkumpul sejumlah Rp 5.965.000,-. Kami terus membuka kesempatan ini bagi anda yang membutuhkan ^_^.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 1:36 AM

0 comments:

Post a Comment