Beasiswa untuk Generasi Bangsa

Posted by

fakhruddin arrozi
“Kita akan sekolah, kita akan menuntut ilmu setinggi langit, kita akan meraih cakrawala. Menggapai bintang di langit dengan ilmu yang kita miliki. Sekolah akan membuat kita kuat, sekolah akan membuat kita menjadi terhormat, sekolah akan membuat seluruh dunia menghargai kita.”

Hmm, yap, great statement! Statemenet from a child who hopes his future shining like sunshine! Begitulah sekiranya kobaran semangat yang terdengar dari Budi Totol―seorang bocah cilik penyemir sepatu dalam novel “Orang Miskin kok Mau Sekolah? Sekolah dari Hongkong?” ― untuk para sahabatnya. Cobaan mereka―tiga bocah penyemir sepatu― yang begitu merenyuhkan hati, mulai dari cobaan menjadi pedagang asongan, menjadi penyemir sepatu, menjadi buruh jermal―disaat bocah-bocah seumuran mereka duduk manis di bangku sekolah, hingga celaan penduduk kampung karena mimpi mereka yang terkesan sangat lucu, yakni mimpi untuk merengkuh masa depan yang cerah lewat sekolah. “Orang miskin kok mau sekolah? Makan aja belum pasti sekali sehari! Kerja tuh! Sekolah nggak penting kalau perutmu lapar!”

Cerita tersebut hanya satu diantara beribu-ribu cerita mengenaskan bocah-bocah cilik yang tidak bisa merasakan duduk manis menikmati goresan kapur di papan tulis yang terpampang di depan kelas―sekolah. Masih banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di negeri kita tercinta ini. Terutama soal pendidikan. Ditemukan masih banyak generasi-generasi yang tidak bersekolah, entah itu karena motif dari dalam diri sendiri―yang lebih mementingkan kerja, atau kondisi sosial yang memaksa mereka tak pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Tentu hal itu bukanlah yang kita harapkan untuk terjadi, namun apa daya, kemiskinanlah yang merenggut naluri mereka sebagai generasi yang seharusnya belajar untuk mempersiapkan diri  menantang masa depan. 

Bicara soal pendidikan, apakah ada orang yang hidupnya tidak ingin merasakan nikmatnya bersekolah? Tak perlu dijawab, saya yakin pasti semua orang―yang berakal sehat― setidaknya menginginkan pendidikan formal, walaupun pendidikan tidak hanya harus lewat sekolah formal.

Dalam kacamata perspektif agama, hukum belajar adalah fardhu ‘ain minal mahdi ilal lahdi, wajib dari sejak lahir hingga mati. Allah pun mengangkat derajat orang-orang yang berilmu-―yang belajar Ilmu agama maupun dunia― fid dunya wal akhiroh.

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Mujadilah : 11)

Sedang bila dipandang dari kacamata perspektif dunia, semua orang pasti ingin taraf hidupnya sejahtera melalui sesuatu yang bernama “pendidikan”. Pendidikan bisa dikatakan adalah salah satu kunci pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan adalah kebutuhan mutlak setiap orang, pendidikan mengajak manusia untuk memiliki cakrawala pengetahuan yang luas dan berkualitas! Baik secara spiritual, intelektual, maupun emosional sehingga mampu bersaing secara fair di tengah carut-marutnya dunia ini. Tanpa adanya pendidikan, bisa menjadi apa orang-orang di dunia ini? Kembali menjadi manusia yang tidak berkembang seperti manusia primitif? Menjadi manusia terbelakang? 

Ehm, lalu, bagaimana agar semua lapisan masyarakat dapat merasakan betapa nikmatnya bangku sekolah?
Sebenarnya ini adalah tanggung jawab kita bersama. Negeri ini membutuhkan generasi penerus yang siap, tangguh, dan berkualitas untuk menghadapi segala resiko hidup yang sudah menunggu di masa depan. Generasi berpendidikan dan ber-akhlaq karimah.

Satu hal yang masih menjadi persoalan kita adalah soal ekonomi. Dan itulah masalah besar yang sedari dulu belum bisa terselesaikan sepenuhnya oleh kita semua. Sehingga banyak generasi-generasi penerus yang terpaksa tidak bisa mengenyam pendidikan formal, yang sejatinya kebaikannya akan kembali pada diri mereka masing-masing.

Satu hal yang mungkin terlintas dalam benak, kalau bicara soal pendidikan dan ekonomi, pasti yang terfikir adalah “beasiswa”. Sekilas pikiran kita mengartikan, beasiswa menjadi tiket bagi para pelajar dengan kemampuan ekonomi terbatas namun ingin mengenyam pendidikan setinggi mungkin. 

Beranjak dari persoalan ekonomi lah, saya rasa beasiswa adalah solusi yang bijak.
Sekarang, perhatian banyak pihak―seperti pemerintah ataupun swasta― terhadap berbagai masalah pada pendidikan di Indonesia sudah cukup membantu mencari jalan keluar atas permasalahan itu. Adanya Beasiswa adalah salah satu wujudnya.

Tujuan pemberian beasiswa adalah untuk mendukung kemajuan dunia pendidikan. Sasaran awalnya adalah golongan masyarakat yang tidak mampu dari segi ekonomi, agar mereka tetap bisa mengenyam pendidikan yang layak. Tidak hanya itu, penerima beasiswa seharusnya juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Supaya ketika mereka lulus dari bangku pendidikan, mampu menerapkan ilmunya untuk kepentingan umum.

Terlepas dari hal tersebut, saya rasa beasiswa sah-sah saja diperuntukkan untuk orang yang mampu, asalkan benar-benar berpretasi. Tak lain tujuannya adalah untuk mendongkrak motivasi belajar penerima beasiswa tersebut agar selalu lebih baik dari pada hari ini. Tanpa disadari pula, beasiswa otomatis mendongkrak semangat belajar orang-orang disekitar penerima beasiswa itu karena termotivasi ingin mendapatkan beasiswa pula.

Yah, banyak manfaat yang didapat dengan adanya beasiswa. Mudah-mudahan, generasi penerus menjadi siap untuk menghadapi masa depan dengan hasil mereka bersekolah. Dan mudah-mudahan menjadi pemberat timbangan amal baik bagi donatur di yaumul hisab nanti. Aamiin.

Fakhrudin Ar-Rozi
―Jumat, 4 Rabi’ul Akhir 1434 H 06:52 WIB
Dormitory of Ma’had MTA 


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 4:23 PM

0 comments:

Post a Comment